Showing newest 5 of 6 posts from February 2010. Show older posts
Showing newest 5 of 6 posts from February 2010. Show older posts

Tuesday, February 23, 2010

Which is better: Ribaat or Residing in Makkah for worship?


Which is better: Ribaat or Residing in Makkah for worship?

Shaykh al-Islaam, Ahmad bin Taymiyyah, may Allah sanctify his soul about the hadeeth, 'Guarding a night at the shores is better than a mans actions for his family, for a thousand years;' and on the residents of Makkah and al-Quds and al-Madeenah, (who reside) with the intention of worship and total devotion to Allah, the Most High, and the ones who reside in Dimyaat and Alexandria and Tripoli with the intention of Ribaat...which of them is better?



So he answered:

Praise be to Allah... Nay, residing at the frontlines of the Muslims, like the ones in the Levant and Egypt is greater than being a neighbour of the three masaajid.
I do not know any difference of opinion amongst the people of knowledge on this issue, and more than one of the scholars has explicitly stated this.


The reason is that Ribaat is part of Jihaad, and being a neighbour (or within the proximity) is part of Hajj, as the Most High says: 'Do you consider the providing of drinking water to the pilgrims and the maintenance of Al-Masjid-al-Haram (at Makkah) as equal to the worth of those who believe in Allah and the Last Day, and strive hard and fight in the Cause of Allah? They are not equal before Allah.' [at-Tawbah: 19]


And in the Saheehayn, the Messenger of Allah, sallallahu 'alayhi wa salam was asked: 'Which
action is best?' He answered: 'Belief in Allah and His Messenger'. It was said, 'Then what?'. He
said: 'Then Jihaad in His path'. It was asked, 'Then what?' He responded 'Then dedicated Hajj' [that is, Hajj free of doing trade, Hajj, just for its sake].


It has been narrated, 'An expedition in the path of Allah is greater than seventy pilgrimages'.
In Muslim's Saheeh, from Salmaan al-Faarisi, the Prophet of Allah, sallallahu 'alayhi wa salam said: 'The guarding (Ribaat) of a night and day in the path of Allah is greater than the fasting and praying of a month; and whoever dies whilst in Ribaat, dies a Mujaahid, and he is given his reward from paradise and is protected from the two tribulators (the angels who come at death)' And in the Sunan, from 'Uthmaan, the Messenger of Allah sallallahu 'alayhi wa salam said: 'The guarding of a day in the path of Allah, is greater than one thousand days in other than it of places,' and this was said by 'Uthmaan on the pulpit of the Messenger of Allah, sallallahu 'alayhi wa salam, and it is said he narrated this to spread this Sunnah.
 

Abu Hurayrah said 'To do Ribaat for a night in the path of Allah is more beloved to me than to pray on Laylat al-Qadr at the Black Stone'. The rewards of Ribaat and guarding in the path of Allah are too many, and cannot mentioned fully on this paper. And Allah knows best.
[See Majmoo' al-Fataawaa 28/5]



by al-Imaam Ibn Taymiyyah


Monday, February 22, 2010

Kepada Saudari Muslimah


* رسالة * إلى الأخوات المسلمات
* رسالة * إلى الأخوات المسلمات
بسم الله الرحمن الرحيم


الحمد لله رب العالمين ، والصلاة والسلام على أشرف المرسلين؛ سيدنا محمد وعلى آله وصحبه ومن اهتدى بهديه واستن بسنته إلى يوم الدين...


Segala puji bagi Alloh Robb semesta alam, sholawat dan salam semoga tetap tercurah pada utusan yang paling mulia, pemimpin kami, Muhammad beserta keluarganya, sahabatnya dan siapa saja yang mengambil petunjuk dan sunnahnya hingga hari pembalasan …

Saudari-saudariku, kaum muslimah nan mulia,

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته...

Telah lama aku ingin berbicara pada kalian mengenai apa saja yang terjadi pada umat islam ini, yang berupa berbagai peristiwa dan insiden besar. Akan tetapi kondisilah yang menghalangi antara kita. Telah tiba saatnya aku berbicara pada saudari-saudari ku yang mulia, akan tetapi aku mulai pada keluarga dan orang-orang tercinta di negeri kami yang tercinta ini. Maka aku katakan pada mereka, janganlah kalian merisaukan kami karena kami –sembari memuji Alloh- dalam (keadaan) baik dan (mendapat) kenikmatan dari Alloh –Yang maha perkasa dan mulia-. Sedangkan hati dan jiwa kami (tetap) bersama kalian meskipun jarak kita memang jauh.

Beginilah dunia, ada perjumpaan dan ada perpisahan yang (harus) kita lalui selama kita di atas kebenaran dan dipanggil karena kebenaran. Sebagaimana yang Alloh –Yang maha tinggi- katakan,

﴿وَلاَ تَهِنُوا وَلاَ تَحْزَنُوا وَأَنتُمُ الأَعْلَوْنَ إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ﴾

Dan janganlah kalian merasa lemah dan sedih sedangkan kalian adalah orang-orang tinggi jika kalian mengetahui.”

Semoga kita dapat bertemu (kembali) dalam waktu dekat, insyaAlloh. Karena kelapangan dari Alloh adalah dekat dan pertolongan-Nya pastilah dating dengan izin-Nya –Yang maha tinggi-.

Setelah (kepada) keluarga dan orang-orang tercinta, aku tujukan pembicaraanku ini kepada saudari-saudariku yang mulia dalam umat islam yang berharga ini. Terkhusus kepada saudari-saudari kami tercinta yang sedang beribath di bumi jihad dan (di) belahan bumi (lainnya), serta kepada ibu-ibu kami yang telah memberikan belahan hati mereka di jalan Alloh dan untuk membela diin-Nya. Meskipun demikian mereka tidak menjadi tumpul dan bosan untuk menolong diin ini. Berapa banyak suami, anak dan saudara yang telah mereka berikan!? Berapa banyak gangguan yang telah menimpa mereka di jalan Alloh!? Maka, kita semua berada pada satu keadaan; para wanita yang beribath, berjihad lagi mendapat gangguan. Mereka telah mengorbankan apa yang ada di sisi mereka. Akan tetapi –demi Alloh Yang tidak ada ilah selain-Nya- semua itu tidak dan tidak akan menjadikan kami terlambat –meskipun sebentar- dari membela diin kami, meskipun di jalan ini kami kehilangan orang-orang tercinta dan jauh dari keluarga. Akan tetapi –meskipun itu semua terjadi- kami tidak mendapati kecuali rasa manis dalam (menempuh jalan) ini, ridho terhadap sesuatu yang dengannya Alloh memuliakan kami, dan terhadap sesuatu yang dengannya Alloh memilih kami di antara hamba-hamba-Nya yang lain. Yakni dengan diberikannya rizqi jihad di jalan-Nya, membela diin-Nya dan meninggikan kalimat-Nya. Meskipun semua ujian ini ada, kami (tetap) berada dalam kecukupan untuk hidup, sedangkan kemuliaan dan karunia hanya milik Alloh semata.

Wahai saudari-saudariku yang tercinta nan mulia, tetaplah teguh di jalan ini karena kekuatan yang besar dan faksionalisme internasional tidak akan (dapat) menghentikan kami. Alloh –Yang maha perkasa lagi mulia- bersama kita, Dia lah yang yang mecukupi dan melindungi kita. Kita tidak akan takut terhadap siapapun kecuali terhadap Dia –Yang maha suci lagi tinggi-. Hanya milik Alloh lah segala puji, kami (tetap) teguh menghadapi segalanya dan kalian akan mendapat berita gembira mengenai janji Alloh kepada kita sebagaimana yang Dia katakan,

﴿أَمْ حَسِبْتُمْ أَن تَدْخُلُواْ الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَأْتِكُم مَّثَلُ الَّذِينَ خَلَوْاْ مِن قَبْلِكُم مَّسَّتْهُمُ الْبَأْسَاء وَالضَّرَّاء وَزُلْزِلُواْ حَتَّى يَقُولَ الرَّسُولُ وَالَّذِينَ آمَنُواْ مَعَهُ مَتَى نَصْرُ اللّهِ أَلا إِنَّ نَصْرَ اللّهِ قَرِيبٌ﴾

Apakah kalian mengira akan masuk surga padahal belum datang (ujian) kepada kalian seperti yang menimpa orang-orang sebelum kalian. Mereka ditimpa gangguan dan marabahaya serta digoncang hingga Rosul dan orang-orang yang beriman bersamanya berkata, “kapan (datangnya) pertolongan Alloh?” Ketahuilah, sesungguhnya pertolongan Alloh itu dekat.” (QS. Al-Baqoroh: 214)

Maka pertolongan itu dekat dengan izin Alloh. Robb kita juga tidak akan mengabaikan kita insyaAlloh. Kemenangan (di dunia) atau kesyahidan. Keduanya adalah lebih baik dari yang lainnya. Dan kami tidak akan lemah dalam menolong agama kami karena itulah yang termahal bagi kami.

Saya memohon kepada Alloh untuk kami dan untuk saudari-saudari kami di belahan bumi lain –khususnya di bumi ribath, seperti Palestina, ‘Iroq, Chechnya, Afghonistan dan Shomalia- agar mendapatkan kesabaran dan keteguhan hingga mati. Kemenangan atau syahadah.

﴿وَاللّهُ غَالِبٌ عَلَى أَمْرِهِ وَلَـكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لاَ يَعْلَمُونَ﴾.

Alloh lah Yang menang di atas perkara-Nya akan tetapi kebanyakan manusia tidaklah tahu.” (QS. Yusuf: 21)

Aku ingatkan diriku dan aku ingatkan saudari-saudariku tercinta akan (kisah) shohabiyah yang berjihad, berhijroh lagi beriman. Karena mereka adalah tauladan yang terbaik bagi kita, dengan merekalah kita mengambil tauladan, dengan merekalah kita berhibur, berapa banyak ‘ibroh dan hikmah pada (sejarah) perjalanan mereka yang harum. Karena mereka tidak tumpul dan tidak bosan membantu diin kita. Maka kami –insyaAlloh- berada di jalan mereka. Tauladan yang paling besar bagi kami adalah sayyidah Khodijah –semoga Alloh meridhoinya- berapa banyak dia telah menolong Rosululloh –semoga Alloh limpahkan berkah dan kesejahteraan bagi beliau- dalam melaksanakan da’wah beliau. Dahulu dia pernah mengatakan pada Rosululloh,

"فوالله لا يخزيك الله أبدا، إنك لتصل الرحم، وتصدق الحديث، وتحمل الكل، وتعين على نوائب الحق"

Demi Alloh, Alloh tidak akan menghinakan Anda selamanya. Sesungguhnya Anda menyambung hubungan kerabat, jujur dalam berbicara, menanggung letih dan menolong yang tertimpa musibah.”1

Demikian juga sayyidah Shofiyyah –semoga Alloh meridhoinya-, dia adalah wanita pemberani yang ketika melewati benteng yahudi, ada yahudi sedang mengelilingi benteng itu sedangkan kaum muslimin masih berperang melawan musuh mereka. Maka Shofiyyah pun turun dan membunuh yahudi itu dengan batangan besi tanpa takut dan tanpa peduli. Dia adalah lebih pemberani dari pada kebanyakan pria-pria di masa ini.

Demikian juga dengan sayyidah Ummu ‘Umaroh –semoga Alloh meridhoinya- yang dalam perang Uhud dia mendapat 12 luka ketika membela Rosul –semoga Alloh limpahkan berkah dan kesejahteraan baginya-. Ummu ‘Umaroh juga terpotong tangannya pada perang al-Yamamah dan pada perang al-Yamamah juga dia mendapat 11 luka (pada tubuhnya) kecuali salah satu tangannya.

Dengan merekalah kami mengambil tauladan dalam membantu suami-suami kami di atas kebenaran, dalam kegagahan dan dalam keberanian. Kami juga tidak takut kepada siapapun kecuali Alloh –Yang maha suci lagi mulia-.

Adapun pesanku yang kedua (tertuju) pada saudari-saudariku muslimah yang tertawan di penjara-penjara thoghut:

Maka aku katakan kepada mereka, kalian ada di hati kami, selamanya kami tidak akan melupakan kalian, insyaAlloh kita tidak akan pesimis untuk membebaskan kalian dari penahanan, karena kalian adalah tujuan kami dan kami adalah saudari kalian. Selamanya kami tidak akan melupakan kalian. Dan Alloh mengetahui bahwa kami selalu berdoa pada Alloh agar Dia menjaga kalian dari segala keburukan dan kejelekan, serta agar Dia segera membebaskan kalian dari penahanan.

Adapun pesanku yang ketiga (tertuju) untuk seluruh kaum muslimah di dunia ini secara umum;

Yang pertama, aku seru mereka untuk komitmen terhadap seluruh hukum-hukum islam, karena di dalamnya tedapat kebahagiaan dunia dan kesuksesan di akhirat. Khususnya (untuk) komitmen terhadap hijab, karena hijab adalah identitas seorang muslimah yang (teguh) beribadah pada Robb-nya, yang (teguh) taat terhadap perintahnya, serta karena meninggalkan hijab adalah bentuk ketaatan terhadap setan. Juga sebagaimana yang kalian ketahui wahai saudari-saudari muslimah, sesungguhnya penyerangan terhadap hijab termasuk bagian peperangan yang paling keras antara Islam dan Kufr, karena orang-orang kafir jahat itu ingin agar seorang wanita melepaskan diin-nya, dan hal pertama yang dilepas oleh seorang wanita adalah penampilan dan penutupnya. Maka jika seorang wanita telah melucuti penampilan dan pentupnya, hal itu akan diiringi oleh serangkaian pelucutan terhadap sisa diin-nya.

Maka wajib bagi seorang wanita muslimah untuk memperhatikan masalah ini dengan baik. Juga sebagaimana yang kalian ketahui wahai saudari muslimah, bahwa bangsa barat tidak menginginkanmu kecuali sebagai barang dagangan yang dapat mereka jual dan agar mereka dapat menghapus simbol-simbol islam dengan-mu (yang telah melepaskan identitas islam). Karena hijab yang dinisbatkan pada wanita muslimah, adalah simbol pertama dari simbol-simbol islam. Dalam hijablah terdapat kehormatan, kesucian dan pentup bagimu.

Sedangkan dunia kafir barat tidak menginginkanmu komitment terhadap hijab, karena komitmennya seorang wanita terhadap hijab akan mengungkap keruntuhan mereka, menghinakan akhlaq dan (menyingkap) degradasi (moral) sosial mereka. Karena bangsa kafir barat (senantiasa) menjual wanita. Mereka menganggap wanita sebagai barang dagangan yang murah, yang bagi mereka wanita tidaklah perlu dijaga dan dihormati. Bahkan bagi mereka wanita merupakan satu dari berbagai sarana bisnis porno dan maksiat. Hanya pada Alloh (kita) berlindung dari semua itu.

Akan tetapi, seorang wanita muslimah yang berhijab adalah wanita yang terlindungi dan dihormati di dalam rumah dan di luar rumah. Dia adalah permata yang tersimpan dan mutiara yang (amat) berharga.
Sebagaimana yang dikatakan oleh Robb kita –Yang maha suci lagi tinggi-,

﴿يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُل لِّأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاء الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِن جَلَابِيبِهِنَّ ذَلِكَ أَدْنَى أَن يُعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَّحِيمًا﴾

Wahai Nabi, katakan kepada isteri-isteri dan anak-anakmu serta (kepada) wanita-wanita kaum mu’minin agar mereka menjulurkan (memanjangkan) jilbab mereka,2 (karena) itu adalah (agar) mereka lebih mudah dikenal dan (agar) mereka tidak diganggu. Dan adalah Alloh maha pengampun lagi penyayang.” (al-Ahzab: 59)

Inilah firman Alloh –Yang maha perkasa lagi mulia- kepada Rosul-Nya –semoga Alloh limpahkan berkah dan kesejahteraan baginya-, agar beliau berbicara (memerintahkan) kepada isteri-isteri, anak-anak dan wanita-wanita kaum mu’minin. Maka karena itu, wajib bagi kita (wahai) saudari-saudari mu’minah, agar komitmen terhadap hijab syar’iy. Karena itu adalah lebih baik bagi kita dalam urusan diin dan dunia kita.

Kedua, aku nasehatkan kepada saudari-saudariku muslimah untuk mendidik anak-anak mereka agar taat pada Alloh –Yang maha suci lagi tinggi-, untuk mencintai jihad di jalan Alloh, untuk mengobarkan semangat saudara, suami serta anak-anak pria (mereka) agar membela bumi kaum muslimin dan kekayaan mereka serta mengembalikannya dari para perampas yang telah merampas negeri kaum muslimin dan merampas kekayaan mereka, juga untuk memperingatkan umat agar berlepas diri dari orang-orang yang ingin bersekongkol dengan musuh dan dari mereka yang hendak menyia-nyiakan bumi kaum muslimin.

Aku juga menasehatkan pada mereka (kaum muslimah) untuk membantu para mujahidin dengan doa dan harta, untuk membantu keluarga orang-orang yang terluka dan (keluarga) para tahanan, serta untuk mengumpulkan harta sumbangan / shodaqoh untuk anak-anak mereka. Karena mereka sangat membutuhkan kepada orang yang mau membantu mereka dalam (menghadapi) kesulitan hidup.

Aku ingatkan saudari-saudariku terhadap sabda Nabi –semoga Alloh limpahkan berkah dan kesejahteraan padanya-,

"الصَّوْمُ جُنَّةٌ وَالصَّدَقَةُ تُطْفِئُ الْخَطِيئَةَ كَمَا يُطْفِئُ الْمَاءُ النَّارَ"(3)

Puasa adalah perisai dan shodaqoh memadamkan (menghapus) kesalahan sebagaimana air memadamkan api.” (HR. at-Tirmidzi, dia berkata, hadits hasan shohih)

Aku ingatkan juga terhadap sabda beliau –semoga berkah dan kesejahteraan Alloh limpahkan padanya-,

"يَا مَعْشَرَ النِّسَاءِ تَصَدَّقْنَ فَإِنِّي رَأَيْتُكُنَّ أَكْثَرَ أَهْلِ النَّارِ"(4)

Wahai kaum wanita, shodaqoh lah karena sesungguhnya aku melihat kalian adalah penghuni neraka yang paling banyak.” (HR. al-Bukhoriy)

Aku yakinkan saudari-saudari-ku muslimah di belahan bumi (lainnya), bahwa peran wanita muslimah sangatlah penting dalam amal islamiy. Karena wanita adalah saudari kaum pria. Maka wajib bagi wanita muslimah untuk beramal membantu kaum pria dalam membela diin dan bumi-nya. Wanita (dapat) membela dengan jiwa-nya. Jika tidak mampu, maka dengan hartanya. Jika tidak mampu, maka dengan berda’wah di jalan diin-nya, dengan metode menyeru saudari-saudarinya muslimah di masjid-masjid, di sekolah-sekolah, di lembaga-lembaga pendidikan, dan di rumah-rumah. Jika tidak mampu, maka via internet (dengan) menuliskan da’wah, menyebarkannya dan mempublikasikan seruan dari para mujahidin. Dan insyaAlloh itu akan sampai. (Suatu saat) akan engkau dapati telinga-telinga yang cenderung dan hati-hati yang memperhatikan. Wahai saudari-ku muslimah, maka aku berharap padamu agar engkau tidak tumpul dan tidak bosan untuk membela diin kita dengan media apapun yang engkau mampu.

Bertepatan dengan adanya berulang kali pertanyaan mengenai peran wanita dalam jihad sekarang ini, maka aku katakan –Alloh lah yang memberikan tawfiq-; sesungguhnya jihad ini adalah fardu ‘ayn bagi setiap muslim dan muslimah. Akan tetapi, jalannya peperangan bagi seorang wanita tidaklah mudah. Perang (bagi wanita) membutuhkan mahrom, karena wanita wajib bersama mahrom ketika dia pergi dan ketika dia kembali. Akan tetapi wajib bagi kita membela diin kita dengan berbagai cara, lalu kita letakkan jiwa kita untuk membantu para mujahidin. Apa yang mereka (para mujahidin) minta pada kita, kita jalankan. Sama saja apakah membantu dengan harta, atau membantu mereka (secara langsung), atau membantu dalam (bidang) informasi atau opini, atau berpartisipasi dalam pertempuran, atau bahkan hingga dengan operasi istisyhad. Karena, berapa banyak seorang saudari (muslimah) melaksanakan operasi istisyhad di Palestina, ‘Iroq, dan Checnya, serta (terbukti dapat) membunuh banyak musuh dan menjadikan mereka menerima kekalahan yang cukup parah. Maka kami memohon pada Alloh agar menerima mereka dan mempertemukan kami dengan mereka dalam kebaikan.

Akan tetapi peran kita (wanita) yang pokok –yang kita memohon pada Alloh agar menerima peran ini- adalah menjaga anak-anak, keluarga, dan rahasia para mujahidin. Kita bantu mereka dalam mendidik anak-anak mereka dengan baik. Sedangkan saudari-saudari kalian yang berhijroh –segala puji dan karunia hanya milik Alloh- yang sedang melaksanakan peran yang besar dalam bidang ini, mereka mengenakan (sifat) sabar, keteguhan, kegagahan, kezuhudan di dunia, cinta akhirat dan keberanian pada (diri) mereka, meskipun mereka mendapatkan kesempitan hidup, kehilangan suami, anak dan ayah mereka, jarang (mendapat) ketenangan, bahkan sungguh sebagian mereka telah diuji dengan menjadi tahanan (musuh). Namun, saudari-saudari kalian yang berhijroh itu (tetap) bersabar lagi mengharap pahala. Hanya milik Alloh lah segala puji dan karunia.

Dalam penutup perkataanku, aku ingatkan saudari-saudariku bahwa ajal dan rizqi telah ditetapkan di sisi Alloh. Sedangkan jihad tidaklah menyegerakan ajal dan tidak pula mengurangi rizqi. Sesungguhnya jihad hari ini telah menjadi fardhu ‘ayn, karena musuh kafir asing telah menjajah negeri-negeri kaum muslimin dan 3 tempat suci mereka berada dalam pengawasan dan penjajahan musuh. Demikian halnya dengan berkuasanya para penguasa boneka murtad terhadap kaum muslimin. Sungguh para ulama’ telah sepakat terhadap wajibnya menurunkan (penguasa) murtad.

Sebagaimana yang telah dikatakan oleh syahidul islam –sebagaimana yang kami sangka- syaykh ‘Abdulloh ‘Azzam –semoga Alloh menyayanginya-, sesungguhnya jihad menjadi fardhu ‘ayn bagi ummat ini semenjak jatuhnya Andalusia.

Sebagaimana para komandan mujahidin menyeru ummat ini untuk berangkat (berperang) ke medan-medan jihad, maka hendaknya kita wahai saudari-saudariku tercinta, tidak meninggalkan kewajiban-kewajiban syar’iy ini, dan hendaknya kita kobarkan semangat kita terhadap kewajiban ini.

Juga aku berikan berita gembira bahwa jihad ini dalam (proses) kemenangan dan kesuksesan, juga bahwa media informasi barat meskipun mereka menyatakan berbagai kerugian pasukan salibis dan yahudi di berbagai medan jihad, namun mereka tidak lain hanyalah menyampaikan satu bagian dari realita dan menyembunyikan sebagian besar realita (yang ada). Maka hendaknya kalian (mengikuti) media informasi para mujahidin yang menyampaikan berbagai kebenaran jihad dari lapangan dan membongkar tipuan media informasi barat. Inilah kami, sebagai contoh, marilah kita kalahkan kaum salibis. Karena setelah lebih dari 8 tahun dimulainya perang salib, –dengan karunia Alloh- kami senantiasa berjihad dari Chechnya hingga ke Maghrib Islamiy. Percayalah dengan pertolongan Alloh yang berfirman dalam kitabnya yang mulia,

﴿الَّذِينَ آمَنُواْ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللّهِ وَالَّذِينَ كَفَرُواْ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ الطَّاغُوتِ فَقَاتِلُواْ أَوْلِيَاء الشَّيْطَانِ إِنَّ كَيْدَ الشَّيْطَانِ كَانَ ضَعِيفًا﴾.

Orang-orang yang beriman berperang di jalan Alloh. Sedangkan orang-orang yang kafir berperang di jalan Thoghut. Maka perangilah wali-wali setan itu. Sesungguhnya tipu daya setan itu (sangat) lemah.” (QS. An-Nisa’: 76)

Aku tinggalkan kalian dalam penjagaan dan pemeliharaan Alloh.

وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين وصلى الله على سيدنا محمد وآله وصحبه وسلم

والسلام عليكن ورحمة الله وبركاته

Saudari kalian di (jalan) Alloh
Umaymah Hasan Ahmad Muhammad Hasan
Isteri Saudara Kalian Ayman az-Zhowahiriy

ادعوا لإخوانكم المجاهدين
Doakan untuk kebaikan saudara-saudara kalian para mujahidin

Saudara kalian di
Departement Produser Informasi “As-Sahab”
Sumber: (Pusat Informasi “al-Fajr”)



Ditarjamah oleh:
Muharridh Muhibbul Haq



1 Diriwayatkan oleh al-Bukhoriy, Muslim dan yang lainnya dengan lafazh yang berbeda-beda. –pent.
2 Jilbab adalah kain lebar yang digunakan oleh wanita untuk menutup (tubuhnya). Maksud ayat ini, hendaknya para wanita menutupkan sebagian kain itu pada muka jika mereka keluar untuk berbagai keperluan, kecuali salah satu matanya saja (yang boleh ditampakkan). (Tafsir al-Jalalayn Surat al-Ahzab ayat 59)
Tafsir al-Jalalayn merupakan salah satu tafsir yang bermadzhab syafi’iy. Ini sekaligus menjadi bantahan bagi orang-orang yang mengklaim bermadzhab syafi’iy namun dalam realitanya mereka tidak menyetujui penggunaan cadar, bahkan sebagiannya menginkari. Adapun menurut kami (penterjemah), jika sekarang mampu menggunakan kain hitam tipis untuk menutup matanya sehingga masih mampu untuk memandang jalan, maka lebih afdhol untuk menutup seluruh wajah tanpa terkecuali. Wallohu a’lam. –pent.

3(1) أخرجه الترمذي ، وقال: حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ.

4(2) رواه البخاري.

Tuesday, February 16, 2010

Negara Saudi Dan Sikap Ibnu Baz Serta Ibnu Utsaimin Terhadapnya


Oleh : Abu Muhammad 'Ashim Al Maqdisisiy
Alih Bahasa : JAWABAN TUNTASAbu Sulaiman Aman Abdurrahman
 

As Salamu 'alaikum Wa rahmatullohi wa barakatuh

Saya berterima kasih kepada antum atas jawaban terhadap surat saya yang pertama ;
  1. Sangat ingin mengusulkan satu usul - seraya berharap antum sepakat atasnya insyaAllah – yaitu menulis sebagian makalah atau sebagian buku yang membedakan antara keadaan negara saudi Fase pertama zaman Ali imam Muhammad Ibnu Abdil Wahhab dengan negara saudi sekarang di sisi penerapan syari'ah, tahakum terhadap syar'iy dan sikap-sikap mereka terhadap pemerintah-pemerintah yang berhukum dengan selain yang telah Allah turunkan.
  2. Dan saya juga berharap antum menyebutkan kepada saya pendapat antum tentang para kakek Abdul Aziz(1) Ibnu Su'ud yang mana mereka itu para pembela dakwah Al Imam Muhammad Ibnu Abdil Wahhab rahimahullah.
  3. Juga saya berharap sangat antum menjawab pertanyaan saya ini ; Apakah Syaikh Ibnu Baz dan Syaikh Ibnu Utsmain rahimahullah sejalan / sepakat dengan syaikh Muhammad Ibnu Ibrahim Abdullatif Al Asy Syaikh dalam sikap penentangan syaikh Muhammad terhadap pemerintah saudi dalam realita mereka tidak memberlakukan Syariaturrahman ? Dan Apakah keduanya – yaitu Syaikh Ibnu Baz dan Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah – mengenakan pakaian ulama padahal keduanya bara darinya ?
Dan sya berterima kasih atas kelapangan dada antum untuk menampung pertanyaan-pertanyaan ini.
Wasslamualaikum wa rahmatullahi wa barakatuh.

Jawab :
Al Akh Al Fadlil : As Salamu 'alaikum Wa rahmatullohi wa barakatuh :
Risalah telah sampai kepada saya, semoga Alloh menyambungmu dengan penjagaan-Nya, dan engkau mengatakan didalam risalah itu :
(saya sangat ingin mengusulkan satu usul – seraya berharap antum sepakat atasnya insyaAllah – yaitu sebagian atas makalah atau sebagian buku yang membedakan antara keadaan negara Saudi sekarang disisi penerapan Syari'at , tahakum kepada syar'iy dan sikap-sikap mereka terhadap pemerintah-pemerintah yang berhukum dengan selain yang apa yang telah Allah turunkan. Dan saya juga berharap antum menyebutkan kepada saya pendapat antum tentang para kakek Abdul 'Aziz Ibnu Su'ud yang mana mereka itu para pembela dakwah Al Imam Muhammad Ibnu Abdil Wahhab rahimahullah).
Semoga Allah membalasmu dengan kebaikan atas usulan ini dan saya berharap ada kesempatan saya untuk menggarap sesuatu darinya di tengah kepadatan dan kebercabangan materi-materi yang meninggi di rampungkan. Dan bagaimanapun keadaannya sungguh saya telah menuturkan hal itu dalam kitab Al Kawasyif Al Jaliyyah, dan didalamnya telah kami tegaskan bahwa kami tidak mengkafirkan dari keluarga su'ud atau yang lainnya kecuali orang yang mengugurkan tauhid atau jatuh dalam mukafgirat, bahkan kami berdalil dengan ucapan Abdul Aziz Ibnu Su'ud(2) di zaman Syaikh Muhammad Ibnu Abdil Wahhab di awal kitab.
Akhil fadlil permusuhan kami dan takfier kami terhadap keluarga (dinasti) Su'ud bukanlah termasuk jenis apa yang dilakukan orang-orang jahil yang berangkat dari pijakan-pijakan jahiliyyah atau wathaniyyah (nasionalisme) atau kepentingan-kepentingan dan fanatisme-fanatisme keduniaan, dan bukan pula termasuk jenis apa yang dilakukan Rafidlah dan yan lainnya dari kalangan yang dalam ucapannya tidak membedakan antara Alu Su'ud terdahulu yang membela dakwah Syaikh Muhammad Ibnu Abdil Wahhab dan orang-orang yang berjalan diatas jalan mereka, dengan khawalif (orang-orang sekarang) dari Alu Su'ud yang memberlakukan Al qaw'anm al wadliyyah, mereka berhukum kepadanya, tawali kepada tuhan-tuhan pembuatnya (arbab), dan membantu kaum musyrikin atas kaum muslimin. Tidak .... dan mana mungkin .... akan tetapi kami melakukan rincian ini dan kami menyebutkan mukaffirat ini dan yang lainnya supaya keluar dari ucapan kami orang-orang yang tidak tercakup oleh hal itu dari Alu Su'ud di zaman kita ini. Kami tidak melenyapkan dari Alu Su'ud seorang muwahhidin muslim pun, dan tidak mungkin kami melakukan takfier bil umum Alu Su'ud seperti yang dilakukan kaum ghulah atau juhhal, baik pada orang-orang masa kini dari Alu Su'ud ataupun pada para pendahulu mereka atau pada yang lainnya.

  1. Abdul Aziz Ibnu Su'ud adalah pengkhianat lagi boneka Inggris, ayah Thaghut Fahd, dididik di kuwait, Dia memanfaatkan ikhwan muwahhidin yang lugu untuk capai kekuasaannya, terus dia memecah mereka dan menghabisi mereka dengan memanfatkan fatawa masyayikh yang tidak mengatahui kebusukannya. Lihat Al Kawasyif Al Jaliyyah (pent)
  2. Abdul Aziz ini adalah Abdul Aziz Inu Muhammad Ibnu Su'ud, murid syaikh Muhammad Ibnu Abdil Wahhab rahimahullah langsung. Beliau Imam 'alim rabbani mujahid yang adil pada zama beliau Jazirah makmur sentosa (pent)
Dan ucapan dalam Al Kawasyif Al Jaliyyah adalah sangat nyata lagi jelas bahwa kami memaksudkan dari Alu Su'ud itu orang yang berhukum dengan selain apa yang telah Allah turunkan, atau berhakim kepadanya pada tingkat apapun baik nasional, regional atau internasional, atau yang tawalli kepada kuffar dan mendukung mereka atas kaum muwahiddn, atau berupaya dalam memberantas tauhid yng haq dan auliyanya, atau melakukan selain apa itu dari mukaffirat yang nampak jelas ; dan orang yang tidak seperti itu dia memilki ashlul iman, maka dia itu adalah saudara kami, baginya hak seperti hak kami dan atasnya kewajiban seperti kewajiban kami, baik dia itu dari Alu Su'ud atau dari yang lainnya. Jadi tolak ukur kami, pijakan kami, pola pikir kami dan penilaian-penilaian kami wahai ahlul islam adalah Syar'iyyah bukan jahiliyyah.

Dan diantara utsaqu 'ural iman (ikatan iman yang paling kokoh) adalah cinta karena Allah, benci karena Allah , loyalitas karena Allah dan memusuhi karena-Nya. Kami loyalitas kepada seseorang dan mencintainya bila dia itu mu'min walaupun ia termasuk orang yang jauh nasab dan tanah airnya dari kami, dan kami membencinya bara' darinya dan memusuhinya bila dia itu musyrik atau kafir walaupun dia tergolong orang yang paling dekat nasab dan tanah airnya dari kami.

Dan engkau berkata; (dan saya berharap sangat antum mau menjawab pertanyaan ini ; Apakah Syaikh Ibnu Baz dan syaikh Utsaimin rahimahullah sejalan/sepakat dengan syaikh Muhammad Ibnu Ibrahim Ibnu Abdillathif Alu Asy Syaikh dalam sikap penentangan beliau terhadap pemerintah Saudi dalam realita mereka tidak memberlakukan Syari'aturrahman? Dan apakah keduanya – yaitu syaikh Ibnu Baz dan Syaikh Utsaimin rahimahullah – mengenakan pakaian ulama padahal keduanya bara' darinya?)

Maka saya katakan : Tentunya keduanya sepakat dari sisi dasar dan inti – Syaikh Ibnu Baz dan Syaikh Utsaimin keduanya tidak mengakui al hukmu bi ghairi maa anzalallah atau membolehkanya, dan tidak ragu akan penentangan keduanya terhadap pemerintah saudi dalam hal itu, maka hal ini tidak nampak bagi saya, bahkan justru sebaliknya kami melihat keduanya membela pemerintah ini dengan segenap kemampuan mereka. Dan saya tidak mengatakan itu sebagai sikap mengada-ada atas nama keduanya, tidak sama sekali, karena saya dengan mereka akan berdiri dihadapan Allah Ta'ala, namun ucapan dan fatawa merekalah yang memberitahukan akan hal ini. Sebagai contoh silahkan ambil ucapan Syaikh Ibnu Baz :
(dan negara saudi ini adalah negara yang penuh berkah, sedang para penguasanya sangat antiusias atas penegakan al haq, penegakan keadilan, membela yang teraniaya , membuat jera yang dzalim, menebarkan keamanan, serta melindungi harta manusia dan kehormatan mereka) dinukil dari kaset rekaman suara Syaikh tanggal 29/4/1417 H dengan judul “ Huquuq wu laatul Amri 'Alal Ummah”.

Saya katakan : dan tidak samar atas orang yang berakal realita negara ini. Dan telah kami sebutkan diantara hal-hal yang menggugurkan ini dan membantahnya dari realitanya dalam kitab kami “Al Kawasyif” maka silahkan merujuk kepadanya orang yang jauh dari realitanya atau orang yang memejamkan kedua matanya.
Dan silahkan rujuk apa yang ditulis Syaikh Ibnu Baz dan Haiah Kibarul Ulama tentang ikhwan mujahidin rahimahullah yang telah dipancung (1) dengna klaim sikap mereka memerangi Allah dan Rasul-Nya, padahal hakikatnya sebenarnya adalah membunuh orang muslim dengan sebab orang kafir meskipun para masyayikh itu tidak mau menegaskan hal itu, karena ikhwan kami itui tidak memerangi Allah dan Rasul-Nya dari kalangan tentara Amerika dan auliyanya. Silahakan baca tulisan masyayikh itu, didalamnya terdapat dukungan penuh kepada negara (pemerintah) Saudi dan serangan terhadap jihad dan mujahidin.

Dan ambil lagi contoh lain dari ucapan Ibnu Baz dalam bab ini pada penjelasan yang muncul dari Haah kibarul Ulama yang mana Ibnu Baz dianataranya dalam rangka takdzir dari tulisan-tulisan juhaimin yang padahal semua tulisan itu sebelum dicetak telah dibacakan oleh thullabul ilmi dari kalangan pengikut Juhaimin dihadapan Syaikh Ibnu Baz. Dan setiap orang yang objektif bisa merujuk dan membacanya untuk melihat sejauh mana kebenaran ucapan yang akan didatangkan ; dan ini bukanlah rekomendasi muthlaq saya terhadap tulisan-tulisan mereka (juhaimin dan para pengikutnya) , karena saya menyelisihi mereka dalam sikap mengkafirkan pemerintah saudi dan anshar mereka serta pengingkaran terhadap orang yang mengkafirkannya. Dan tentunya bukan hal ini yang dicela dan di tahdzir darahnya oleh para syaikh itu disini. Namun hal terbesar yang di tahdzir para masyayikh darinya dan mereka menganggapnya sebagai sybhat -syubhat yang dosa, takwilat bathilah dan pemikiran-pemikiran yang sesat adalah celaan juhaimin terhadap pembai'atan imam mereka dan penggugurannya terhadap bai'at itu sebagaimana ia adalah hal yang ma'lum bagi setiap orang yang menelaah kitab-kitabnya dan hidup di periode itu.

Para masyayikh berkata : ( dan Haiah saat memandang dengan pendapat ini terhadap kelompok yang zalim ini, ia memandan dalam tulisan-tulisannya terdapat syubhat-syubhat yang dosa dan takwilat bathilah serta pemikiran-pemikiran yang sesat yang dianggap sebagai bibit kejahatan, kekacauan kesesatan dan jalan kepada kerusakan, ketidakmenentuan dan permanen terhadap kepentingan-kepentingan negeri dan masyarakat dengan dalih-dalih yang mana sebagian orang-orang bodoh bisa terpukau bisa terpana dengan dhahirnya padahal dibaliknya terdapat keburukan yang menyebar. Dan haiah saat menjelaskan hal itu dan mengecamnya maka sesungguhnya ia menghati-hatikan kaum muslimin seluruhnya dari apa yang terdapat dalam tulisan-tulisan itu berupa syubhat-syubhat yang busuk, takwilat bathilah dan pemikiran-pemikitan yang buruk.
______________________________________________________________________________
  1. lihat materi “ Keledai Ilmu Terpeleset Di Tanah “. Para ikhwan itu telah membom markaz pasukan salib Amerika di kota Khabar. Lihatlah kebusukan fatwa masysyikh itu dimana mujahidin muwahhidin di pancung dengan fatwa busuk mereka karena alasan membunuh kaum kafir harby. Kalau mereka tahu realita yang sebenarnya maka tidak halal mereka keluarkan fatwa diatas kejahilan diatas realita kalau seandainya mereka ditipu atau dibihongi oleh penguasa maka sepatunya mereka mencabut fatwa itu setelah diberitahu. (pent)
Sebagaimana Haiah dengan kesempatan ini dan dalam rangka menghabisi fitnah mereka dari pihak pemerintah paduka raja yang mulia Khalid Ibnu Abdul Aziz hafidhahullah wa waffoqahu wa a'anahu 'ala kulli khair, bersyukur kepada Allah Ta'ala karena telah memudahkan jalan untuk menghabisnya, dan Haiah memohon kepada Allah Ta'ala untuk menjaga negeri ini dan negeri kaum muslimin seluruhnya dari setiap keburukan dan menyatukannya diatas al haq serta membantu para penguasanya dan mengokohkan mereka dengan islam dan mengokohkan islam dengan mereka serta menjadikan bagi mereka para pendamping yang baik yang bila mereka itu berniat baik maka mereka membantunya, bila mereka lupa maka mereka menunjukinya dan bila mereka lupa mereka mengingatkannya. Dia memenangkan al haq dan menggugurkan yang bathil walau kaum mujrimin dari kalangan yang zalim, dengki, pembuat makar dan yang hasud tidak menyukainya. Dan Haian sangat menghargai upaya besar yang telah dikerahkan pemerintah dalam mengikis habis fitnah ini dengan tangannya atau lisannya atau penanya dan dibarisan terdepan mereka itu adalah Baginda Raja dan penguasa (calon penggantinya), para pembantunya yang tulus serta angkatan bersenjata dengan bermacam-macam namanya dan pangkatnya (1) . Dan kami memohon ampunaan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala ampunan, rahmat dan pahala besar bagi yang mati diantara mereka, dan bagi yang masih hidup balasan yang besar serta keteguhan diatas al haq dan al huda : Allah pencukup kita Dialah sebaik-baiknya Pelindung. Shalawat dan salam semoga dilimpahkan kepada Nabi kita Muhammad Shallallahu alaihi wassalam, keluarganya serta para sahabatnya).

Dalam sikap ABS (Asal Bapak Thgahut Senang) dan sikap berlebih-lebihan muwafaqah (setuju), mutana'ah, dukungan, sanjungan dan pujian terhadap negara ini saya tidak melihat kesamaan dan keselarasan dengan sikap syaikh Ibnu Ibrahim Ibnu Abdillah didalam penentangan beliau terhadap pemerintah saudi dan pengingkarannya yang tegas terhadapnya, yang mana itu engkau dapatkan tersebar di Fatawa beliau dan banyak darinya telah kami nukil dalam Al Kawasyif. Dan mesti diingat bahwa kekafiran-kekafiran dan kedurjanaan – kedurjanaan Abdul Aziz di zaman Syaikh Muhammad Ibnu Ibrahim tidaklah sejelas dan senyata kekafiran-kekafiran anak-anaknya hari ini.

Dan berhubungan dengan Syaikh Ibnu Utsaimin, saya telah membaca ucapannya yang akan saya sebutkan disini dan saya tidak menyembunyikannya – karena ahlul haq meriwayatkan apa yang menguntungkan mereka dan apa yang menghujjahi mereka, - ia berkata dalam ucapannya itu :

(1) Bila ini keadaan para syaikh saudi yang menganggap muslim para thaghut dan ansharnya, maka tidak anahlah bila para muqallid mereka di negeri ini menganggap thaghut RI dan anshar sebagai kaum muslimin (pent)

“Dan ia – yaitu kerajaan saudi – adalah tergolong hal yang terbaik yang kami ketahui di negeri-negeri kaum muslimin penerapannya akan syari'at . Ini adalah hal yang bisa disakasikan , tapi kami tidak mengatakan bahwa ia sempurna seratus persen, namun padanya terdapat banyak kekurangan dan ditemui kezhaliman dan nepotisme, akan tetapi kezaliman itu bila dibandingakan dengan keadilan ternyata lebih sedikit. Dan termasuk zalim bila hanya orang hanya melihat pada kesalahan dan menutup mata dari kebenaran. Bila keadaanya seperti itu maka wajib seseorang itu menilai dengan keadilan berdasarkan firman Allah Ta'ala:” wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang yang benar-benar penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah, biarpun terhadap dirimu sendiri atau ibu bapak atau kaum kerabatmu”. (An Nisa : 135)

Dan Firman-Nya Ta'ala : “Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (Al Maidah : 8) // ( liqaul babil maftuh S no. 956)

Syaikh telah mengingkari beberapa hal disini terhadap negara dan ini tergolong hal-hal yang langka darinya dan kami tidak menyampaikan hal itu atau menyembunyikannya, akan tetapi kami katakan : sangatlah jauh berbeda antara hal yang di dengung-dengungkan pengingkarannya oleh Syaikh Muhammad Ibnu Ibrahim berupa penerapan negara terhadap qawain wadl'iyyah dengan tipu muslihat dan berbagai nama untuk melegalkannya, dan syaikh tetap tidak tinggal diam atas hal itu serta terus berulang kali mengingkarinya sampai beliau wafat, dengan orang yang menjadikan masalahnya sekedar sebagian sikap zalim. Nepotisme dan kekurangan, dan seolah ia sejenis atsrah yang dituturkan Nabi shalallah alaihi wa sallam tentang para penguasa muslim setelahnya dan perintahnya agar orang-orang anshar sabar atasnya. Dan kerenanya sesungguhnya syaikh sebagaimana sudah ma'lum memerintahkan di banyak tempat dari ucapan dan fatwanya untuk bersabar saat mentaati para penguasa itu ... !!! dan tidak khuruj terhadap mereka !! dan ia mengingkari serta mengecam setiap orang yang khuruj terhadap mereka atau mengkafirkan mereka.

Adapun ucapanmu di akhir ucapanmu :( Apakah keduanya – yaitu Syaikh Inu Baz dan Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah – mengenakan pakaian ulama padahal keduanya bara' darinya ?)
Saya telah bependapat seperti itu, dan orang yang mentelaah fiqih mereka dan ilmunya secara umum – selain ucapan mereka tentang parang penguasa yang ada dan keragaman ucapan sesuai hubungan dekat negaranya dengan para penguasa, dan sikap mereka terhadap pembai'atan para penguasa negeri mereka, serta sikap mereka terhadap setiap orang yang memusuhi para penguasanya - maka ia akan mengetahui bahwa mereka itu ulama dalam syari'at dan susungguhnya ushul mereka dan qawa'idnya adalah salafiyyah shahihah. Dan telah mengambil faidah dari mereka dalam selain materi-materi (pengecualian) tadi, dan berguru kepadanya serta terhadap tulisan-tulisannya mayoritas manusia zaman ini dan saya salah satu dari mereka, akan tetapi ini tidak berarti kami mengakui mereka atas kekeliruannya dalam materi-materi tadi atau kami diam tidak mengingkarinya dan kami bersikap keras atau lembut dalam pengingkaran kesalahan itu terhadap mereka dan terhadap muqallid mereka sesuai bentuk dan besarnya kekeliruan. Dan bersama ini semua tidaklah mengganggu kami orang yang mengecam kami dalam hal itu dan menjadikannya sebagai peluang untuk mencela kami secara umum dan menjauhkan (orang-orang) dari tulisan-tulisan dan dakwah kami, atau menjadikannya sebagai tangga untuk meraih ridla para thaghut dan kaki tangannya. Maka cukuplah yang menilai kami dan mereka serta para thaghut itu dzat yang mengetahui mata-mata yang khianat dan apa yang disembunyikan didada. Dan di sisi Allah Ta'ala dalam waktu dekat orang-orang yang berseteru akan berkumpul.

Sahalawat dan salam semoga dilimpahkan kepada Nabi Muhammad, keluarganya dan para sahabatnya semua.


Saudaramu
Abu Muhammad

Monday, February 15, 2010

Bantahan Syaikh Abdullah Abu Buthain Terhadap Pembela Kaum Musyrikin yang Berhujjah Dengan Hadits Kisah Orang yang Berwasiat Agar Jasadnya Dibakar Setelah Mati


Bantahan Syaikh Abdullah Aba Buthain
Beliau berkata di dalam Risalah Al Intishar Li Hizbillah Muwahhidin War Raddu ‘Alal Mujadil ‘Anil Musyrikin:
Sebagian orang yang membela-bela kaum musyrikin berhujjah dengan “kisah orang yang berwasiat kepada keluarganya agar membakarnya setelah dia mati” bahwa orang yang melakukan kekafiran (akbar) karena ketidaktahuan adalah tidak dikafirkan, dan tidak dikafirkan kecuali orang yang mu’anid (orang yang bersikeras setelah mengetahui).
Jawaban terhadap ini adalah bahwa Allah subhanahu wa ta’ala telah mengutus rasul-rasul-Nya dalam rangka memberi kabar gembira dan memberikan peringatan-peringatan supaya tidak ada hujjah lagi bagi manusia terhadap Allah setelah para rasul itu. Sedangkan ajaran terbesar yang mana mereka diutus dengannya dan mereka mengajak kepadanya adalah beribadah kepada Allah saja tidak ada sekutu bagi-Nya serta melarang dari syirik yang mana ia adalah peribadatan kepada selain-Nya. Bila pelaku syirik akbar itu diudzur karena kebodohannya, maka siapa yang tidak diudzur? Dan lazim (konsekuensi harus) klaim ini adalah bahwa tidak ada hujjah bagi Allah terhadap seorangpun kecual orang yang mu’anid, padahal sesungguhnya penganut klaim ini tidak bisa memberlakukan secara baku kaidah dasar pemahamannya ini, akan tetapi dia pasti jatuh dalam kontradiksi pemahaman sendiri, karena sesungguhnya dia tidak mungkin tawaqquf dalam mengkafirkan orang yang ragu terhadap kerasulan Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam atau orang yang ragu terhadap adanya kebangkitan atau hal lain yang tergolong ushuluddin, sedangkan orang yang ragu itu adalah orang yang tidak mengetahui (jahil). Dan para fuqaha rahimahumullah di dalam kitab-kitab fiqh menuturkan hukum orang murtad, di mana “ia adalah orang muslim yang kafir setelah keislamannya baik secra ucapan, perbuatan, keyakinan ataupun keraguan”, sedangkan sebab keraguan adalah kebodohan. Dan konsekuensi harus pendapat ini adalah tidak boleh mengkafirkan orang-orang bodoh dari kalangan Yahudi, Nasrani dan orang-orang yang menyembah matahari dan bulan karena sebab kebodohan mereka, dan tidak boleh juga mengkafirkan orang-orang yang dibakar oleh Ali Ibnu Abi Thalib radliyallahu ‘anhu karena kita memastikan bahwa mereka itu orang-orang yang bodoh, sedangkan para ulama rahimahumullah telah ijma (sepakat) terhadap kekafiran Yahudi dan Nasrani atau orang yang ragu prihal kekafiran mereka, dan kita yakin bahwa mayoritas mereka itu adalah orang-orang jahil.
Syaikh Taqiyyuddin rahimahullah ta’ala berkata: Barangsiapa menghina para sahabat atau salah seorang dari mereka dan penghinaannya ini disertai klaim bahwa Ali adalah tuhan atau bahwa Jibril keliru maka tidak keraguan prihal kekafiran orang ini, bahkan tidak ada keraguan prihal kekafiran orang yang tawaqquf dalam mengkafirkannya.
Dan beliau berkata: Barangsiapa mengklaim bahwa shahabat telah murtad sepeninggal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kecuali beberapa orang saja yang tidak sampai sekian belas orang atau bahwa mereka itu fasiq, maka tidak ada keraguan prihal kekafiran orang itu, bahkan barangsiapa ragu prihal kekafirannya maka dia kafir.
Beliau berkata: “Barangsiapa mengira bahwa firman Allah Ta’ala Wa qadlaa rabbuka an laa ta’buduu illaa iyyaah” (Al Israa: 23) bahwa qadlaa di sini bermakna qaddara (mentaqdirkan) dan bahwa Allah tidak mentaqdirkan sesuatupun kecuali pasti terjadi, kemudian dia menjadikan para penyembah berhala itu tidak beribadah kecuali kepada Allah, maka sesungguhnya orang ini adalah tergolong manusia yang paling kafir terhadap semua kitab” selesai.
Dan tidak ragu bahwa penganut pendapat ini adalah ahli ilmu, zuhud dan ibadah, dan bahwa penyebab klaim mereka ini adalah kebodohan, sedangkan Allah subhanahu wa ta’ala telah mengabarkan tentang orang-orang kafir bahwa mereka itu dalam keraguan dari apa yang diserukan para rasul kepada mereka dan bahwa mereka itu dalam keraguan prihal adanya kebangkitan, di mana mereka berkata kepada para rasul mereka. Sesungguhnya kami benar-benar dalam keragu-raguan yang menggelisahkan terhadap apa yang kamu ajak kami kepadanya".1 dan Allah berfirman, “dan Sesungguhnya mereka (orang-orang kafir Mekah) dalam keraguan yang menggelisahkan terhadap Al Quran”.2 dan Allah berfirman seraya mengabarkan tentang mereka, “Kami sekali-kali tidak lain hanyalah menduga-duga saja dan kami sekali-kali tidak meyakini(nya)".3
Dan Dia berfirman tentang orang-orang kafir,
         
Sesungguhnya mereka menjadikan syaitan-syaitan pelindung (mereka) selain Allah, dan mereka mengira bahwa mereka mendapat petunjuk4,
Dan Dia ta’ala berfirman:
                 
Katakanlah: "Apakah akan kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya? Yaitu orang-orang yang Telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya”5, dan Dia mensifati mereka dengan puncak kebodohan, sebagaimana di dalam firman-Nya ta’ala,
                        
Mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka Itulah orang-orang yang lalai”.6
Dan Allah telah mencela kaum maqallidin dengan firman-Nya ta’ala tentang ucapan mereka:
                                 
Bahkan mereka berkata: Sesungguhnya kami mendapati bapak-bapak kami menganut suatu agama, dan Sesungguhnya kami orang-orang yang mendapat petunjuk dengan (mengikuti) jejak mereka. Dan Demikianlah, kami tidak mengutus sebelum kamu seorang pemberi peringatanpun dalam suatu negeri, melainkan orang-orang yang hidup mewah di negeri itu berkata: "Sesungguhnya kami mendapati bapak- bapak kami menganut suatu agama dan Sesungguhnya kami adalah pengikut jejak-jejak mereka".7
Namun demikian Allah subhanahu wa ta’ala mengkafirkan mereka. Para ulama berdalil dengan ayat ini dan yang semakna dengannya bahwa tidak boleh taqlid dalam menganal Allah dan kerasulan. Hujjah Allah itu telah tegak atas manusia dengan pengutusan para rasul kepada mereka meskipun mereka tidak memahami hujjah-hujjah Allah dan penjelasan-penjelasan-Nya.
Syaikh Muwaffaquddien Abu Muhammad Ibnu Qudamah rahimahullah berkata saat berbicara dalam masalah apakah setiap mujtahid itu menepati kebenaran dan beliau menguatkan pendapat jumhur: sesungguhnya tidak setiap mujtahid itu menepati kebenaran, akan tetapi al haq adalah berada pada salah satu pendapat dari sekian pendapat mujtahidin. Beliau berkata: Al Jahidh mengklaim bahwa orang yang menyelisihi agama Islam bila dia berijtihad terus tidak mampu mencapai al haq maka dia diudzur lagi tidak dosa. “......sampai beliau berkata: Adapun pendapat yang dianut oleh Al Jahidh maka ia adalah kebatilan seraya meyakinkan dan kekafiran kepada Allah serta penolakan kepada Allah dan Rasul-Nya, karena sesungguhnya kita mengetahui secara pasti bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan orang-orang Yahudi dan Nasrani untuk masuk Islam dan mengikutinya, dan beliau mencela mereka karena kebersikukuhnya serta beliau memerangi mereka semua dengan membunuh orang yang sudah baligh di antara mereka, dan kita mengetahui bahwa orang yang mu’anid lagi mengetahui adalah sedikit, namun yang mayoritas adalah kaum muqalidin dan menganut ajaran para pendahulu mereka secara taqlid dan mereka juga tidak mengetahui mu’jizat-mu’jizat Rasul dan kebenarannya. Ayat-ayat yang menunjukkan terhadap hal ini sangatlah banyak di dalam Al Qur’an seperti firman-Nya: “.......yang demikian itu adalah anggapan orang-orang kafir, Maka celakalah orang-orang kafir itu Karena mereka akan masuk neraka”.8
Dan firman-Nya:
         
Dan yang demikian itu adalah prasangkamu yang Telah kamu sangka kepada Tuhanmu, dia Telah membinasakan kamu, Maka jadilah kamu termasuk orang-orang yang merugi.9
Dan firman-Nya: “Mereka tidak lain hanyalah menduga-duga saja”.10 Dan firman-Nya: “Dan mereka menyangka bahwa mereka akan memperoleh suatu (manfaat)”.11 dan firman-Nya, “dan mereka mengira bahwa mereka mendapat petunjuk”.12
Dan firman-Nya:
                                
Katakanlah: "Apakah akan kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya? Yaitu orang-orang yang Telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya. Mereka itu orang-orang yang Telah kufur terhadap ayat-ayat Tuhan mereka dan (kufur terhadap) perjumpaan dengan Dia, Maka hapuslah amalan- amalan mereka, dan kami tidak mengadakan suatu penilaian bagi (amalan) mereka pada hari kiamat.”13
Secara umum celaan terhadap orang-orang yang mendustakan Rasul adalah tidak terhitung di dalam Al Kitab dan As Sunnah. Selesai.
Para ulama menuturkan bahwa orang yang mengingkari kewajiban salah satu ibadah yang lima atau mengatakan pada salah satunya bahwa ia sunnah tidak wajib atau mnegingkari kehalalan roti dan yang lainnya atau mengingkari keharaman khamr atau yang lainnya atau ragu akan hal itu sedangkan orang seperti dia itu (tidak layak) tidak mengetahuinya maka dia kafir , dan bila orang seperti dia itu layak tidak mengetahuinya maka dia diberitahu hal itu terlebih dahulu kemudian bila dia bersikukuh setelah diberitahu maka dia kafir dan dibunuh, dan para ulama tidak mengatakan bila nampak jelas baginya al haq dan ia membangkang maka ia kafir. Dan juga kita tidak mengetahui bahwa dia mu’anid sehingga dia berkata, “Saya mengetahu bahwa hal itu haq namun saya tidak mengkomitmeninya atau saya tidak menganutnya”, ini hampir tidak ada.
Dan para ulama dari masing-masing madzhab telah menuturkan banyak hal yang tidak terhitung berupa ucapan-ucapan, perbuatan-perbuatan dan keyakinan-keyakinan yang mana pelakunya dikafirkan dan mereka tidak membatasi hal itu dengan orang mu’anid.
Jadi orang yang mengklaim “bahwa pelaku kekafiran karena takwil, atau ijtihad atau keliru, atau taqlid, atau kejahilan adalah udzur” maka ia itu menyelisihi Al Kitab, As Sunnah dan ijma tanpa diragukan lagi, padahal dia itu mesti menggugurkan dasar pemahamannya ini, karena seandainya dia membakukan dasar pemahamannya ini tentu dia kafir tanpa diragukan, umpamanya andai dia tawaqquf dalam mengkafirkan orang yang ragu terhadap kerasulan Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Adapun laki-laki yang berwasiat kepada keluarganya agar membakarnya dan bahwa Allah mengampuninya padahal dia itu ragu akan satu sifat dari sifat-sifat Ar Rabb Subhanahu, maka sebab dia diampuni itu adalah karena belum sampainya risalah (hujjah risaliyyah) kepadanya, sebagaimana yang dikatakan oleh banyak ulama. Oleh sebab itu Syaikh Taqiyyuddien rahimahullah ta’ala berkata: “Barangsiapa ragu akan suatu sifat dari sifat-sifat Allah sedangkan orang seperti dia itu tidak layak tidak mengetahuinya maka dia kafir, dan bila layak tidak mengetahuinya maka tidak kafir.” Beliau berkata: Oleh karena itu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mengkafirkan orang yang ragu akan qudrah Allah ta’ala karena hal itu tidak terjadi kecuali setelah sampai risalah (hujjah risaliyyah). Begitu juga Ibnul ‘Uqail mengatakannya dan membawanya kepada makna bahwa dakwah belum sampai kepadanya. Sedangkan pilihan Syaikh Taqiyyuddien dalam masalah sifat adalah bahwa orang yang jahil tidak dikafirkan, dan adapun dalam masalah syirik dan yang serupa dengannya maka tidak seperti itu sebagaimana nanti Insya Allah kami akan melihat sebagian ucapannya, dan telah kami utarakan sebagian ucapannya prihal ittihadiyyah dan yang lainnya dan pengkafiran beliau terhadap orang yang ragu akan kekafiran mereka. Penyusun Ikhtiyarat Syaikh berkata: Orang murtad itu adalah orang yang menyekutukan Allah, atau orang yang membenci Rasul-Nya atau apa yang beliau bawa atau meninggalkan pengingkaran setiap yang munkar dengan hatinya atau mengira bahwa di antara sahabat ada orang yang berperang bersama orang-orang kafir atau membolehkan hal itu atau mengingkari suatu ijma yang diijmakan dengan qath’iy atau menjadikan antara dirinya dengan Allah para perantara yang mana ia tawakkal kepadanya, menyerunya dan memohon syafa’at kepadanya maka ia kafir berdasarkan ijma. Dan barangsiapa ragu prihal suatu sifat dari sifat-sifat Allah sedangkan orang seperti dia itu tidak layak tidak mengetahuinya maka dia murtad, dan bila orang seperti dia itu layak tidak mengetahui maka tidak murtad, oleh sebab itu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mengkafirkan orang yang ragu akan qudrah Allah ta’ala.
Di dalam hal-hal yang mengkafirkan yang dituturkan lebih dahulu beliau memuthlaqkannya begitu saja, namun dalam hal sifat beliau membedakan antara orang yang jahil dengan yang lainnya, padahal sesungguhnya pendapat Syaikh rahimahullah dalam hal tawaqquf dari mengkafirkan jahmiyyah dan yang serupa dengan mereka adalah menyelisihi penegasan-penegasan Al Imam Ahmad dan para imam tokoh Islam lainnya. Al Majdu rahimahullah ta’ala berkata: Setiap bid’ah yang mana Kami mengkafirkan penyeru di dalamnya, maka sesungguhnya kami menvonis fasiq orang yang taqlid didalamnya, seperti orang yang mengatakan “Al Qur’an itu makhluq atau bahwa Ilmu Allah itu makhluq atau bahwa nama-nama-Nya adalah makhluq atau bahwa Dia tidak dilihat diakhirat atau menghina sahabat dalam rangka ibadah atau bahwa iman itu sekedar keyakinan dan hal-hal serupa iru, barangsiapa mengetahui sesuatu dari bid’ah itu seraya ia menyeru kepadanya dan berdebat untuk mempertahankannya, maka ia divonis kafir, hal ini ditegaskan oleh Imam Ahmad dalam banyak tempat. Selesai.
Coba lihat bagaimana mereka divonis kafir padahal mereka itu jahil.

Selesai dari Risalah Al Intishar, akhir Dzul Hijjah 1428 H.



1 QS. Ibrahim: 9
2 QS. Huud: 110
3 QS. Al Jatsiyah: 32
4 QS. Al A’raaf: 30
5 QS. Al Kahfi: 103-104
6 QS. Al A’raaf: 179
7 QS. Az Zukhruf: 22-23
8 QS. Shad: 27
9 QS. Fushshilat: 23
10QS. Al Jatsiyah: 24
11QS. Al Mujadilah: 18
12QS. Al A’raaf: 30
13 QS. Al Kahfi: 103-105

Wednesday, February 10, 2010

Makna Thaghut


Setelah kita mengetahui dalil atas keabsahan syarat kufur kepada thaghut sebagai syarat keabsahan iman, maka kita mesti mengetahui makna thaghut supaya kita mengetahui siapa yang masuk didalamnya dan siapa yang tidak masuk, dan begitu juga kita mesti mengetahui cara kufur kepada thaghut supaya kita mengetahui sifat orang yang kafir kepada thaghut dari yang lainnya.
Saya katakan dalam makna thaghut ; ia adalah setiap yang diibadati selain Alloh walau dalam satu sisi dari sisi-sisi ibadah, sedang ia ridha dengan hal itu. (1)
Siapa yang diibadati selain Alloh dari sisi ruku, sujud, dan memalingkan sembelihan maka dia thaghut.
Siapa yang diibadati selain Alloh dari sisi doa dan permohonan maka dia thaghut.
Siapa yang diibadati selain Alloh dari sisi takut dan harapan maka dia thaghut.
Siapa yang diibadati selain Alloh dari sisi tha'at dan tahakum maka dia thaghut.
Siapa yang diibadati selain Alloh dari sisi cinta, wala dan bara maka dia thaghut.

Setiap yang ditaati karena dzatnya – selain Alloh Ta'ala – maka ia thaghut, dan masuk dalam hal itu penguasa kufur dan aniaya, para ahli ilmu dan pendeta, para syaikh dan para pimpinan partai dan kelompok serta yang lainnya. Dan orang yang taat kepada mereka karena dzatnya adalah orang yang ibadah kepada thaghut itu selain Alloh, baik dia tahu akan hal itu maupun tidak ...
Dan setiap yang di cintai karena dzatnya – selain Alloh Ta'ala – adalah thaghut.
Dan setiap yang di cintai karena dzatnya – selain Alloh Ta'ala – dia adalah yang dikabarkan al wala dan al bara didalamnya karena dan karena dzatnya – dan bukan karena Alloh dan karena dzat-Nya Ta'ala – tanpa memperhatikan keselarasan dia atau mutaba'ahnya terhadap al haq atau al bathil ... !
Banyak dari mereka adalah orang-orang yang mengira diri mereka diatas kebenaran dan bahwa mereka merdeka – yang hidup di zaman alam yang merdeka – pada hal mereka itu sebenarnya budak? Bagi para thaghut ... budak bagi budak yang mana mereka lebih rendah derajat dan statusnya dari mereka ...!!


Ibnu Taimiyyah rahimahulloh berkata dalam Al fatawa 28/200 : yang diibadati selain Alloh bila ia tidak benci akan hal itu adalah thaghut, oleh sebab itu nabi shallallahu alaihi wassalam menamakan berhala-berhala tersebut sebagai thaghut didalam hadist shahih tatkala beliau berkata :” orang yang ibadah kepada thawaghit mengikuti thawaghit itu”. Yang ditaati dalam maksiat kepada Alloh serta yang ditaati dalam hal mengikuti selain al huda dan dienul haq adalah thaghut, baik dia itu terima khabarnya yang menyelisihi kitabullah ataupun yang ditaati perintahnya yang menyelisihi perintah Alloh. Oleh sebab itu orang yang dirujuk hukumnya dari kalangan yang memutuskan dengan selain kitabulah dinamakan thaghut, dan Alloh juga namakan firaun dan 'Aad sebagai thaghut'.

Ibnul Qayyim rahimuhulloh berkata: “thaghut adalah setiap yang dilampaui batasnya oleh si hamba, yaitu yang diibadati atau diikuti atau ditaati, jadi thaghut setiap kaum adalah orang yang mana mereka mengacu hukum kepadanya selain Alloh dan Rosul-Nya, atau yang mereka ibadati selain Alloh, atau yang mereka ikuti tanpa ada bashirah dari Alloh, atau yang mereka taati dalam hal yang tidak mereka ketahui bahwa itu ketaatan kepada Alloh. Inilah thaghut-thaghut dialam ini, bila engkau mengamatinya dan mengamati keadaan-keadaan manusia bersamanya maka engkau melihat mayoritas mereka berpaling dari ibadatulloh kepada ibadatutthaghut, dan berpaling dari tahakum kepada Alloh dan Rosul-Nya kepada tahakum terhaap thaghut, serta dari taat kepada Alloh dan mutaba'ah Rasul-Nya kepada taat terhadap thaghut dan mutaba'ahnya.

Saya berkata :” Bila ini keadaan manusia pada zaman Ibnul Qoyyim rahimahulloh, maka bagaimana dengan zaman kita, dimana para thaghut telah banyak, selalu muncul yang baru dan beraneka ragam. Dan As sunnah telah menunjukkan bahwa tidak ada satupun melainkan yang sesudahnya lebih buruk darinya. Kita memohon keselamatan dan husnul khotimah kepada Alloh Ta'ala.

Syaikh Muhammad ibnu Abdul Wahhab rahimahulloh berkata :” thaghut adalah umum mencakup setiap yang diibadati atau diikuti dalam bukan ketaatan kepada Alloh dan Rosul-Nya, maka ia thaghut.”

Sayyid Quthub rahimahulloh dalam adh dhilal saat menafsirkan firman Alloh Ta'ala:” diantara mereka (ada) yang dijadikan kera dan babi dan (orang yang) menyembah thaghut”. (Al Maidah: 60). Sesungguhnya thaghut adalah setiap kekuasaan yang tidak bersumber dari kekuasaan Alloh, dan setiap hukum yang tidak berdiri di ata syari'at Alloh, dan setiap aniaya yang melampaui batas al haq, sedangkan kelancangan terhadap kekuuasaan Alloh, uluhiyyah-Nya dan hakimiyyah-Nya adalah kelancangan yang paling busuk dan paling berlebihan, serta yang paling masuk dalam makna thaghut secara lafadh dan makna.

Ahlul kitab tidaklah menyembah alim ulama dan para pendeta, akan tetapi mereka mengikuti aturan mereka dan meninggalkan aturan Alloh, kemudian Alloh samakan mereka sebagai orang-orang yang ibadah kepada mereka dan Dia namakan mereka sebagai kaum musyrikin. Mereka mengibadati thaghut, yaitu kekuasan thaghutiyyah yang melampaui haqnya. Mereka tidak mengibadatinya dengan makna ittiba' dan tha'ah, sedangkan ia adalah ibadah yang mengeluarkan pelakunya dari ibadatulloh dan dari dienulloh.

Maka hati-hatilah wahai Abdulloh kamu menjadi hamba thaghut, ansharnya dan tentaranya – sedang kamu mengatahui atau tidak mengetahui – sehingga amalanmu terhapus dan kamu kembali membawa dosamu, sehingga kamu rugi dunia akherat ... !!




(1) Batasan ridha adalah mesti, agar kita dengan hal itu mengeluarkan malaikat, para Nabi dan orang shalih – yang diibadati selain Alloh – dari label dan hukum (vonis) thaghut, karena mereka sangat benci akan hal itu dan melarangnya dan karena mereka tidak ridha diibadati selain Alloh atau bersama-Nya ta'ala dalam suatupun. Maka dalam keadaan seperti ini bara' dan kufur terbatas terhadap para penyembahnya dan terhadap ibadah mereka yang syirik saja tanpa menjalar hal itu kepada yang diibadati yang mana mereka berhak mendapatkan dari kita penghormatan dan loyalitas karena Alloh tanpa cenderung pada ifrat atau tafrith.



 

Recent Posts

Followers

Hak Cipta © Milik Allah Ta'ala, Menyebarluaskan Artikel dan konten yang ada di Web ini Di perbolehkan Li Izzatil Islam Wal Muslimin " Ashhabul kahfi "